ODE KAMPUNG TIGA


SURAT DALAM BENTUK PDF
August 31, 2008, 4:38 am
Filed under: Uncategorized

Berbeda dari generasi sebelumnya, untuk kebutuhan surat menyurat pada Ode Kampung Tiga kali ini panitia akan mengunakan surat elektronik (e-mail). Permintaan surat undangan silakan kirimkan ke panitia melalui odekampungtiga@gmail.com. Surat undangan akan kami buat dalam bentuk Portable Document Format (PDF) yang akan kami kirimkan secara pribadi kepada calon peserta Ode Kampung. Kami berhadap surat dalam bentuk ini akan lebih cepat sampai kepada yang dituju, sekaligus mengurangi biaya kertas dan tinta. (iaa)

 



SYARAT MENJADI PESERTA ODE KAMPUNG TIGA
August 30, 2008, 6:57 am
Filed under: NgariunG

Saya mendapat pesan pendek dari Sarah seorang aktivis dari komunitas Pondok Kopi di Mojokerto. Sarah menanyakan persyaratan untuk menjadi peserta Ode Kampung Tiga. Saya sebagai panitia menjawab bahwa tidak ada persyaratan apa-apa, selain bahwa peserta adalah aktivis yang bergerak di usaha mencerdaskan anak bangsa melalui baca-tulis. Namun demikian, agar kami bisa mengelola acara ini dengan baik, kami memohon calon peserta untuk mendaftarkan diri ke panitia melalui e-mail: odekampungtiga@gmail.com. Pendaftaran ini terkait juga dengan rencana panitia untuk menanggung konsumsi peserta. Kemudian kami menyarankan peserta untuk membawa buku untuk disumbangkan dalam acara ini. Buku tersebut akan kami distribusikan kembali. (iaa)



RUMAH DUNIA PEDULI WONG CILIK
August 25, 2008, 12:17 am
Filed under: NgariunG

Pengantar Redaksi: Rumah Dunia peduli pada gerakan literasi lokal, tidak hanya untuk peajar dan mahasiswa saja. Tapi juga ke wong cilik; dalam artian tukang becak, tuknag ojek, pemulung, supir angkot. Dibukikan denan kegiatan bernama “Pembacaan Puisi Wong Cilik” Baca aja reportase Firman Venayksa di bawah ini:

Pagi itu, 10 Feb 2008, Pak Karya masih sibuk mengurusi warganya untuk kerja bakti, padahal malam harinya ia baru saja bergadang untuk ronda keliling. Sebagai ketua RT, ia termasuk orang yang giat mengorganisir warganya. Profesi lainnya, ia adalah tukang ojeg, mangkal di perumahan Bumi Agung Permai menjadi kesehariannya untuk menafkahi keluarga. Sehabis kerja bakti, sekitar pukul 9.00, dengan memakai motor ojeg merah marun kesayangannya, ia dan dua anaknya mendatangi Rumah Dunia untuk mengikuti lomba baca puisi Wong Cilik. Jauh sebelumnya, ia sudah menulis sebuah puisi mengenai kehidupannya sebagai tukang ojeg. . (more…)



DANA “ODE KAMPUNG #3″ DARI MANA? YA, DARI MATA TURUN KE HATI
August 24, 2008, 11:58 pm
Filed under: NgariunG

Setiap perhelatan “Ode Kampung” tiba, kami di Rumah Dunia selalu berpikir, dari mana dananya? Ya, dari mata turun ke hati. Artinya, selalu saja ada orang-orng yang “entah dari mna’ datangnya, tiba-tiba merogoh kocek. Dimulai dari uang kas, simpatisan permanen Rumah Dunia, juga donatur. Tercatatan nama-nama seperti PT. Gramedia Pustaka Utama, Mizan di Ode Kampung #1, Jibsail dan Koran Jurnjas Jakarta di Ode Kampung 2, Asma Nadia dengan Penerbit LPPH, Forum Lingkar Pena, Bengkel Sastra Pamulang, Suhud Sentra Utama, Banten Raya Post, Radar Banten, Forum Kesenian Banten, Perpustakaan Daerah Banten (nuhun Bu Sudiyati dan Pak yaya Suhendar), Naning Pradoto, Sides, Forum Indonesia Membaca, dan masih banyak lagi secara perorangan. Sekarang, Mizan sudah siap-siap merogoh kocek. Saya pernah bertemu dengan Haidar Bagir dan Hernowo di “Pesta Buku Jakarta”. Mizan siap merogoh kocek sebesar Rp. 5.000.000,- dan Hernowo jadi relawan sebagai pembicara alias teu kudu mayar euy, alias for freee, gratis, coy…!

Nih, daftar sementara penyumbang yang udah siap dukung “Ode Kampung #3″:

 1) Uang Kas Rumah Dunia Rp. 5.000.000,-, 2). Mizan Rp. 5.000.000,-, 3) Gola Gong Rp. 2.000.000,-

Ada yang mau ikutan urunan? Transfer saja ke: Rekening Rumah Dunia, BCA Cabang Serang, an Asih Purwaningtyas, Norek: 245-188-5733. Ditunggu, ya1 Mari kita dukung gerakan literasi lokak! (GG)



BEBEGIG KHAS ODE KAMPUNG
August 24, 2008, 11:47 pm
Filed under: LumbuNG

Sejak “Ode Kampung #1′ hingga “Ode Kampung #2″ selalu ada yang khas, yaitu ‘orang-orangan sawah” alias “bebegig”. Penahkah kita melihatnya? Adakah itu di sekitar tempat kita? Bebegig sudah bermetamorfosa di gedung-gedung dewan dan pemerintah daerah. Mereka kini berjas-dasi dan tidk lagi menjagai sawah-sawah petani. Malah merka jadi malingnya! Awas, ada bebegiiiiiig! Tangkaaap!